GATOT SUDRAJAT, A.FPSI*, Hon.PAF

“Maestro BW”

Berangkat dari ketertarikan mengenal lebih dalam dunia fotografi hitam-putih kurang lengkap jika belum bertemu langsung serta berbincang dengan salah  satu “Maestro Hitam-Putih Indonesia” asal Bandung, Bpk. Gatot Sudrajat (PAF 795). Beliau adalah seorang anggota Senior PAF di era 1970 s/d 1990 sekaligus penyandang gelar Hon.PAF serta A.FPSI yang mengkhususkan dirinya dalam bidang fotografi hitam-putih. Prolog yang membuat saya penasaran untuk mendatangi langsung kediaman beliau di bilangan Jl.Satrugna, pada pertengahan bulan Januari 2012 dengan ditemani oleh Bpk. Janto Siswoyo.

Melihat perawakan beliau yang masih segar-bugar, saya tidak pernah menyangka jika usianya telah menginjak kepala delapan. Walaupun usianya tidak lagi muda namun semangat beliau untuk berbagi kisah serta pengalaman tetap tinggi. Diselangi kicau berbagai jenis burung peliharaan Pak Gatot, obrolan kami siang itu cukup beragam dimulai dengan topik yang menyentuh ranah idealisme fotografi, sedikit teknis dan latar belakang fokus dengan fotografi hitam-putih. Silakan disimak hasil wawancara pendek dengan Pak Gatot.

PAF: Menurut bapak, kriteria foto bagaimana yang dapat dikatakan foto bagus dan berkualitas?

Gatot Sudrajat (GS): Dikoreksi sedikit ya, sebenarnya foto bagus itu tidak ada aturan yang baku atau kriteria tertentu, harus seperti ini dan itu, bagus adalah hal yang relatif, tergantung selera dan latar belakang orang yang melihat. Tetapi ada kriteria untuk foto yang BAIK yang tentunya juga berkualitas diantaranya yaitu; Pertama, dari segi IDE, bagaimana seorang fotografer dapat sejeli mungkin mengolah serta mengeksplorasi sebuah objek atau bagaimana kepekaan fotografer untuk mencuri momen. Kedua adalah kualitas pencahayaan, komposisi dan sudut, sebagus apapun ide dan objek tanpa memperhatikan unsur tersebut maka foto akan tampil kurang berhasil. Ketiga adalah kualitas cetak, foto yang baik memiliki kualitas cetak yang prima dimana semua detil dapat terekam dengan baik. Jika ketiga hal tersebut dapat tercapai maka foto tersebut
adalah foto yang baik dan berkualitas.

PAF: Apa yang menarik dari fotografi BW?

GS: Fotografi adalah sebuah proses, dimana seorang fotografer tidak hanya sebatas menjadi pemotret saja melainkan memiliki kontrol penuh atas hasil yang diingini, terutama dalam ketelitian memproses hasil akhir cetakan foto. Hitam-Putih menyediakan lahan untuk saya berkarya sekaligus berproses dan saya dapat menikmati kedua tantangan tersebut. Seperti yang saya utarakan sebelumnya, foto yang baik juga memiliki cetakan yang prima. Foto hitam-putih yang berhasil dapat tampil lebih “kuat” dibandingkan foto warna.

PAF: Jika dibandingkan foto BW konvensional dengan BW digital, apa komentar bapak?

GS: Saya tidak terlalu memperhatikan fotografi digital sekarang ini, tetapi saya rasa kualitas foto BW setelah diolah dengan tampilan sebatas visual di monitor dapat saja menyamai BW konvensional, tetapi dalam hal cetakan sepertinya BW konvensional lebih unggul. Hanya prosesnya saja yang berbeda, digital lebih sederhana dibandingkan proses kamar gelap.

PAF: Apakah ada pesan/kiat yang bapak ingin sampaikan kepada fotografer muda?

GSTetap konsisten dengan sesuatu/bidang yang kita kerjakan, dalam fotografi itu sangat penting dalam membentuk gaya/ciri seseorang. Fotografer yang berhasil pasti selalu mementingkan proses, tidak hanya sebatas hasil akhir saja. Memotret tidak selalu tentang ilmu teknis, tetapi lebih kepada “olah rasa”.

PS: Sebagian kecil koleksi foto BW milik Pak Gatot Sudrajat dapat dilihat di Sekretariat PAF.

 

Naskah & Foto oleh: Sandy Wijaya (2996)

*Tulisan telah dimuat di Buletin PAF Edisi 1 – 2012

There are no comments yet.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked (*).