Betapa kita terkesima oleh letusan serta erupsi Gunung Merapi, bayangkan saja dari pincak hingga sampai kaki gunungnya, sejauh mata memandang hanya kekeringan yang dapat ditemui, pohon-pohon yang tumbang maupun bangunan-bangunan yang roboh dan hangus terpanggang wedhus gembel (awan panas). Di antara reruntuhan bangunan dapat terlihat beberapa penduduk mulai membersihkan lahan mereka, para ibu rumah tangga memasak di pinggir tembok rumahnya yang telah runtuh. Mobil, perkakas rumah dan serta motor-motor yang hangus menjadi saksi bisu atas kemurkaan Merapi.

Ada yang berjualan dengan modal seadanya, beberapa botol minuman dan penganan kecil mereka jajakan kepada pengunjung yang datang. Wajah-wajah tegar yang dibalut keprihatinan tersirat begitu jelas pada raut wajah masyarakat yang tinggal di lereng Merapi tersebut, kepada kami banyak kisah duka yang mereka ceritakan. Terdapat banyak sisa-sisa dari kemurkaan Merapi yang dapat saya rekam dari lokasi kejadian. Tapi dari semua itu, saya coba masukan beberapa rekaman yang menampilkan perjuangan mereka untuk hidup dan tentunya merupakan misteri bagi kita semua.

Beberapa orang relawan berjalan kaki berkilo-kilo meter memanggul perkakas seadanya, tanpa pamrih mereka menyusuri jurang untuk membersihkan reruntuhan bangunan serta pepohonan tumbang yang menghalangi jalan. Ketika saya berkesempatan berbincang dengan mereka, banyak cerita yang dapat menyentuh perasaan dan seolah-olah kita ada dan bisa merasakan penderitaan mereka yang menjadi imbas kemurkaan Merapi.

Sangat disayangkan terdapat segelintir pengunjung yang kurang bersimpati dengan penderitaan mereka, dilokasi bencana mereka dengan senang hati melakukan pemotretan model dengan latar belakang reruntuhan. Kesan “GLAMOUR” mereka tampilkan dengan latar penderitaan orang lain, lantas kita berfikir; kemana nurani manusia tersebut? Bagaimana jika ada kerabat kita yang tinggal disana?

Diantara sela-sela pepohonan yang telah roboh dan kering saya melihat beberapa tunas mulai tumbuh hijau, beberapa pohon mulai berbunga kembali, betapa besar karunia Tuhan YME terhadap alam ini. Saya ibaratkan tunas serta bunga yang baru tumbuh tersebut sebagai tunas-tunas harapan yang tetap tumbuh dalam sanubari masyarakat yang terkena bencana.

Kali Kuning saya tinggalkan dengan doa, semoga saudara-saudara kita yang disana diberi ketabahan dan kekuatan untuk segera membangun kembali kondisi normal ditempatnya.

Berikut adalah foto-foto yang telah saya abadikan dan sepenuhnya saya dedikasikan untuk masyarakat Kali Kuning.


Reruntuhan yang Tersisa

Lembah Derita

Awal Kehidupan Baru

Pecah Belah
 

Diantara Reruntuhan

Merapi dalam Bingkai

Bangkai Motor

Imbas Merapi

 

Naskah & Foto oleh: Andi Wijaya (1535)

*Tulisan telah dimuat di Buletin PAF Edisi 2 – 2012

There are no comments yet.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked (*).