Cerita mengenai Lasem ini tidak ada habisnya. Sebagai kecamatan yang berada di Kabupaten Rembang ini merupakan kota yang sangat unik. Lasem memiliki 3 buah bangunan klenteng dan 1 buah vihara yang letaknya diatas bukit bagian timur kota. Selain itu Lasem juga mempunyai banyak pesantren yang bertebaran di seluruh penjuru kota yang salah satunya terkenal karena letaknya berada di tengah pemukiman warga Cina yang ada di daerah Kauman (Pesantren Kauman), tepatnya di belakang Masjid Jami’Lasem.

Konon menurut beberapa sumber, pantai Lasem disebut sebagai tempat mendaratnya armada Laksamana Cheng Ho dan juru mudinya. Dan pada saat Perang Dunia ke II pantai ini juga  menjadi tempat pendaratan bala tentara Jepang. Hal ini dikarenakan pantai yang ada di Desa Dasun merupakan pantai yang ideal untuk digunakan sebagai tempat pendaratan karena lokasinya yang langsung menuju ke kota Lasem.

Di daerah Dasun ini ada sebuah kelenteng tertua yang katanya dibangun sekitar tahun 1400 dengan nama Klenteng Cu An Kiong. Di sebelahnya terdapat Lawang Ombo yang penuh misteri dan Gedong Ombo yang dulunya merupakan rumah candu. Di tempat ini terdapat satu buah lubang besar selebar 1,5 meter, yang alirannya mengarah ke sungai. Tujuan dibuatnya lubang ini adalah untuk membawa masuk candu. Namun, sekarang untuk tujuan keamanan lubang ini sudah ditutup.

Kemudian ke sebelah timur daerah ini, ada daerah Soditan yang masih memiliki beberapa bangunan tua dari warga asli Indonesia dan Cina, dan di sebelah barat terdapat hamparan ladang garam, sedangkan sebelah timur – sedikit ke luar kota Lasem ada tempat Ziarah Sunan Bonang yang menjadi tempat wisata religi. Lebih ke timur atau di seberang tempat Ziarah Sunan Bonang, ada Pantai Binangun tempat bersandarnya kapal-kapal pencari ikan. Lebih ke timur Pantai Bi Nang Un terdapat desa Sarang tempat pembuatan kapal-kapal besar yang berjejer sepanjang 1-2 km (daerah ini berada di Jalan Raya menuju Surabaya).

*klik untuk memperbesar

Dari batas utara kota Lasem, ada pesisir pantai Jawa dan pegunungan yang di bagian selatannya membentang dari barat kota Pati sampai timurnya kota Tuban. Kota ini berada di antara kota Anyer dan Panarukan yang merupakan hasil karya dari H.W.Daendels (yang terkenal dengan jalan raya Anyer – Panarukan). Di bagian utara, kota Lasem bersebelahan dengan sungai daerah Dasun mulai jalan raya sampai ke utara yang di pinggirnya terdapat pohon bakau dekat muara.

Di kecamatan Lasem, ada terminal bus yang di belakangnya ada pasar Lasem menuju Pantai Caruban. Sebelah kanan terminal bus ada pasar hewan, dan di seberangnya ada desa Doro Kandang, dimana ada Makam R. Panji Margono. Di sebelah timur makam ini ada bekas stasiun kereta api Lasem. Lalu sebelah timur daerah stasiun kereta api ini dikenal sebagai sentra pembuatan batik tulis/lukis yang juga disebut daerah Bagan. Di sini ada satu Klenteng bernama Gie Yong Bio yang merupakan klenteng untuk menghormati pahlawan Lasem yang gugur melawan Belanda.

*klik untuk memperbesar

Dibatasi dengan sungai, sebelah timur daerah ini disebut dengan daerah Karang Turi. Daerah ini benar-benar unik karena bangunannya menunjukkan peradaban penduduk Cina tempo dulu dimana tembok bangunannya mencapai lebih dari 2 meter, serta bangunan-bangunannya sudah dibuat beberapa puluh bahkan ratus tahun yang lalu. Rumah-rumah ini telah dihuni lebih dari 3-4 generasi, dan kebanyakan sekarang sudah ditinggalkan.  Para penghuninya terutama yang kaum muda lebih memilih untuk memiliki usaha di luar Lasem. Di Karang Turi ini, tepatnya disamping satu Klenteng bernama Poo An Bio yang dibangun kira-kira pada tahun 1740 juga ada sebuah Pondok pesantren yang bergaya bangunan Cina dan letaknya di daerah Kauman, yang diasuh oleh Gus Zaim. Di depan daerah Kauman terdapat pos jaga / hansip yang memiliki keunikan yaitu berwarna merah dan kuning serta dihiasi ornamen Cina. Sekarang daerah ini banyak dikunjungi oleh wisatawan lokal. Mereka biasanya mengunjungi daerah yang namanya Tembok Merah yang merupakan rumah milik Bapak Rudi. Di samping Tembok Merah terdapat tempat minum dan penjualan batik, yang juga dapat dipakai juga untuk menginap.

*klik untuk memperbesar

Sayang ada beberapa bangunan yang mulai dipugar dan diubah dengan model masa kini. Saya pertama kali mengunjungi kota ini pada tahun 2012, dan selanjutnya hampir setiap tahun saya kembali mengunjungi tempat ini dan ada saja bangunan yang menghilang.  Awal saya mengenal kota Lasem adalah pada saat hunting sunset di pantai Bi Nang Un. Saya bertemu dengan seorang warga Lasem yang juga sedang hunting, dari sanalah awal saya ingin mengenal Lasem lebih jauh. Esok harinya saya dijemput oleh teman baru saya tersebut  yang datang bersama dengan teman-temannya untuk turut hunting bersama.

Kami langsung pergi  mengitari kota lasem ini, dengan di mulai dari sentra pembuatan batik, kemudian ke tempat pembuatan terasi dan ikan asap. Dilanjutkan dengan makan lontong Tuyuhan sambil melihat tanaman tebu yang berderet siap untuk dipanen. Untuk tempat pembuatan batik, yang paling banyak dikunjungi oleh para pemotret yaitu tempat pembuatan Batik milik Bapaka Santoso (Pusaka Beruang) yang ada di selatan daerah Bagan. Tempat ini ada di tengah kampung yang sepi yang dikhususkan sebagai tempat pengerjaan untuk menutup gambar dengan malam cair. Walupun tempat ini cukup jauh, namun masih tetap dicari dan dikunjungi oleh wisatawan karena memiliki daya tarik yaitu adanya pohon trembesi yang besar. Akhir dari blusukan kami dari pagi hingga siang ini,  berlabuh di suatu tempat di kota Lasem yang disebut dengan bekas pabrik ubin. Letaknya di jalan raya dekat dengan daerah Karang Turi. Tidak disangka, tempat ini merupakan tempat masa kecil dari salah seorang anggota PAF dan hal ini baru saya ketahui setelah 5 tahun berlalu.

Setiap saya pergi ke Lasem saya mendapatkan banyak hal yang baru dan unik sehingga selalu penasaran ingin melihatnya. Seperti yang ada di daerah Sumber Girang. Terdapat sebuah pasar unik yang letaknya di lorong gang, bekas rumah tinggal yang bangunannya cukup luas, memilki ciri khas bangunan Cina yang temboknya menjulang lebih dari 3 meter. Pasar unik ini mulai ramai dengan pedagang yang berderet di sepanjang gang dan juga rumah tinggal setelah pukul 8.00 pagi.

Untuk yang suka ngopi jangan khawatir, karena banyak warung kopi yang berjualan seperti yang ada di daerah Bagan.  Ada warung kopi Pa Ndut yang berada di depan klenteng Gie Yong Bio di Karang Turi yang bernama Jing Hai, dan satu lagi ada di daerah Soditan, pemiliknya bernama Mas Jhon. Ketiga warung kopi ini merupakan tempat nongkrong yang asik karena tidak dibatasi oleh perbedaan kelas sosial apapun sehingga semua orang dapat dengan bebas ngobrol dan ngopi. Dari karyawan swasta, pedagang, karyawan kantoran hingga anggota TNI & Polisi dan juga bos-bos yang kebetulan lewat pasti akan mampir terlebih dahulu di tempat ini. Saya pun ketularan dengan kebiasaan ini, sehingga saya di pagi hari akan minum kopi di Karang Turi sedangkan siangnya ngopi di Bagan, sambil melihat mereka yang melukis rokok dengan kopi yang  sering mereka sebut dengan membatik. Ternyata kegemaran “membatik” kopi di sebatang rokok telah menjadi trend di kalangan penikmat rokok di kota Lasem. Yang uniknya adalah mereka menyimpan sedikit air dan ampas kopi ke sebuah piring kecil lalu mengambil sebatang rokok kretek dan selanjutnya dengan tusuk gigi, rokok itu dihiasi dengan beraneka ragam motif sesuai selera mereka masing-masing. Lalu rokok itu dijejerkan untuk dikeringkan lalu dimasukkan kembali kedalam bungkusnya.

*klik untuk memperbesar

 

Pada tahun 2017 banyak perubahan besar yang terjadi di kota ini. Muncul banyak tempat-tempat nongkrong dan penginapan baik di dalam maupun di luar Karang Turi seperti Roemah OEI. Dan ada pula tempat dimana rombongan PAF pernah menginap yaitu Rumah Kuning sekarang menjadi sebuah penginapan yang mewah.

Di Desa Sendangcoyo yang letaknya sedikit ke timur dan berada diperbukitan yang jaraknya lebih kurang 4-5 km, terdapat satu Vihara bernama Ratanavana Arama dengan Patung Buddha tidurnya yang memiliki panjang lebih kurang 9 meter. Vihara ini dibangun oleh Bhante Sudhammo di lahan seluas 6 hektar. Karena letaknya yang berada di atas perbukitan serta dipenuhi dengan pohon-pohon yang rindang, membuat tempat ini benar-benar sangat mengasyikan.

*klik untuk memperbesar

Jadi intinya kota Lasem ini merupakan kota yang menawan. Perpaduan lintas agama yang sangat harmonis tampak pada banyaknya tempat-tempat ibadah yang tersebar di segala  penjuru kota. Ada kelenteng untuk penganut agama Khong Hoe Cu, vihara bagi penganut Buddha dan ada pula mesjid untuk penganut agama Islam yang tak terhitung banyaknya. Dan oleh karenanya Lasem disebut juga kota Santri, dimana banyak santri muda yang sengaja datang dari luar kota seperti Semarang dan kota sekitar untuk menimba ilmu agama. Lalu tentu tidak ketinggalan Gereja Katolik serta Gereja Protestan.

Itulah sedikit cerita mengenai kota Lasem, kota kecil yang menyediakan makanan yang murah serta keramahan dari warganya.

 

 

Bandung, 28 Januari 2020

Janto Siswojo / PAF 1398

There are no comments yet.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked (*).

Open chat